Rabu, 09 Januari 2013

Inspiring People

hello. has been calmer and more.. thoughtful today. maybe that's why I want to write? Or maybe.. because there's so many things to tell today.

Yes, today is a journey. Both inside and outside journey. I've seen much. I've felt much. So many emotional things. 

Insecurity. That's what I felt this morning. I thought, I hate myself. Then I saw those two siblings in the church. I knew them. They are the two sisters which looks so much alike that I cannot even differ them both. They are.. confident. Confident enough to make me see, that look is nothing more important than everything inside, than how you think and behave. That the most important thing in one's self is what you do, not how you look. See, how those two siblings had changed my thought and mood so much, even when they didn't do anything. They just stayed on their spot, and keep being awesome. Keep being themselves. 

Maybe you can do it too. When you have enough confidence, and enough strength, and enough in everything needed to inspire people, you will inspire people. Even when you only standing still somewhere. Even when you're dead.

And how I wish I could be like that. *_*

The Standard of Beauty

That day, when I was in a saloon having my hair treated, I realized that the money I spent on that is quite much. Then I told myself that it's okay, this time only, because I'm on my journey to be a beautiful girl.. so someday, I'll be able to meet the standard of beauty that people admit. Then, I saw my reflection in the mirror and suddenly realized something. there's no such thing as standard of beauty. there's no limitation to be called beautiful. because every woman is already beautiful in their own way. you are already beautiful, so what are you trying to change? That's it.

Kamis, 06 Desember 2012

Perjuangan

Kau tahu arti perjuangan?
Jatuh dan bangun, jatuh dan bangun lagi.
Aku sering jatuh. Sering bangun. Kadang menyerah. Kadang bertahan.
Apa yang kuperjuangkan, kalian mungkin tidak tahu.
Karena aku seringkali berjalan sendiri,
tidak ingin berbagi.
Karena pikirku, akankah kalian mengerti?
Akankah kalian menerimanya?
Kalau boleh kusarankan, jangan seperti aku.
Berjuang sendiri itu, tidak enak.
Melelahkan, menyakitkan.
Padahal, Tuhan sudah ciptakan beberapa teman.
Lalu, untuk apa,
Kalau tidak diajak berjalan bersama?

Minggu, 02 Desember 2012

Christmas is Coming, But...

Hey, Christmas is coming!
Yeah, sudah tanggal satu. Satu DESEMBER. Bulan yang ditunggu-tunggu kebanyakan orang. Termasuk aku.
Sudah hampir natal, sudah hampir pulang ke rumah, dan.. sudah hampir UAS. Jujur, belum siap. Terlalu banyak distraksi, dari dalam maupun dari luar. Banyak buku yang belum dibaca, banyak konsep yang belum benar-benar didalami seperti biasanya. Jadi takut, apakah nilaiku masih akan sama seperti UTS kemarin. Turunkah? Stabilkah? Ah, Tuhan, aku ingin nilai yang bagus. Aku seharusnya tidak di sini, seharian bermain internet dan mengabaikan semua kewajiban. Sekarang ini, terlalu banyak waktu luang yang dipakai untuk hal-hal tidak berguna. Padahal, waktu itu berharga sekali. SANGAT. Kalau begini terus, bisa-bisa aku kelabakan waktu sudah H-3 atau 4.
Entahlah, aku butuh motivasi, butuh semangat. Butuh waktu bermain juga. Butuh rehat. Terlalu banyak yang dipikirkan, pelajaran jadi terlantar. Maafkan aku..

Aku Prajurit Tuhan

Aku.. suka berkhayal kalau aku adalah prajurit. Pemimpinku adalah Tuhan. Aku berperang untuk Tuhan yang Agung, dengan senjata dan perlengkapan dari besi. Tapi, aku bukan prajurit biasa. Aku prajurit yang terlahir cacat.

Tadi aku berdoa. Aku masuk ke dalam ruangan Tuhan, di mana Ia duduk di atas singggasana-Nya yang indah. Aku berdiri di tempat yang pantas, dan membungkuk sebelum berbicara. 

Tuhan tersenyum, dan menyapaku. Aku menyapa-Nya kembali, dengan hormat. Lalu mulai bercerita. Aku bertanya pada Tuhan meminta kekuatan. Aku sedang terluka dan masih harus berjuang. Aku merasa hidupku sulit dan diciptakan secara tidak adil dari yang lain. Aku merasa aku dibuat berbeda oleh Tuhan, dan itu seringkali membuat aku terjatuh. Kuceritakan penderitaanku, sambil menjaga agar tubuhku tetap tegap, dan nada bicaraku tetap tegas--walaupun aku ingin menangis. Persis seperti seorang prajurit. Lalu Tuhan berkata, apa yang kau inginkan?

Aku sadar, bertanya 'kenapa' atau mengeluh 'tidak adil' tidak akan merubah keadaan. Ribuan orang lain melakukan hal itu, dan hidup mereka tidak terlihat jadi lebih baik. Jadi kukatakan, Tuhan, aku minta, supaya aku tidak sendirian. Aku meminta-Nya untuk tidak meninggalkan aku.

Tuhan diam, tidak menjawab. Memberiku ruang untuk berpikir. Lalu aku merenung. Tuhan tidak mengirimku pergi dengan tangan kosong.

Kulihat tangan kiriku. Ada pedang di sana. Kulihat tangan kananku, menggenggam erat sebuah perisai. Seluruh tubuhku, dilindungi dengan pelindung dari besi. Aku telah memenangkan begitu banyak pertarungan, dengan bimbingan Tuhan, senjata, dan kemampuanku, bahkan dengan tubuh yang cacat. Untuk sesaat, kakiku yang tidak utuh jadi terasa tidak berarti.

Tuhan memberiku kekurangan. Kekurangan yang, sangat mengganggu, menurutku. Aku membayangkan diriku bertarung dengan satu kaki, tanpa senjata yang memadai, aku pasti sudah mati. Tapi Tuhan tidak melakukan itu. Ia membekaliku. Ia tahu aku prajurit yang kuat, yang handal. Ia memberiku banyak kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, untuk melawan tantangan-tantangan di dunia ini. Untuk melawan kemalasan,  berjuang meraih cita-cita, melawan kebodohan dan ketidaktahuan, menghadapi ujian sekolah, berusaha mendapatkan pekerjaan, semuanya. Ia memberiku bakat. Ia memberiku orang tua yang baik. Ia memberiku rumah yang kurindukan, memberiku teman-teman yang peduli. Semuanya, semuanya itu adalah senjataku.

Aku mengangkat kepalaku dan mendapati Tuhan masih menatapku, menunggu pertanyaanku. Aku menarik nafas dan berucap dengan penuh syukur, Tuhan.. dimuliakanlah nama-Mu.