Tampilkan postingan dengan label Life Lessons. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Lessons. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2012

Kita, Bertambah Tua

Kita semua, tak terkecuali, bertambah tua setiap harinya. Bukan cuma tubuh fisik, tapi apa yang ada di dalam. Di sini, entah di mana letaknya, tapi ada di sini, di suatu tempat dalam jiwa kita. Hati kita berubah. Pikiran kita berubah. Pendapat kita berubah. Semuanya berubah, dan berkembang, seiring dengan semakin banyaknya hal yang kita hadapi di luar sana. Apapun itu.
Aku berubah. Aku bertambah tua. Aku akan ulang tahun sebentar lagi (promosi :p), tapi bukan cuma itu, apa yang ada di dalam diriku berubah.
Kadang, apa yang dulu kita rasa benar, jadi tidak benar lagi. Bukan kenyataan itu yang berubah, tapi kesadaran kita yang berubah. Tadi kubilang, kita bertambah tua. Ya, kita makin mirip dengan orang-orang dewasa di luar sana. Mereka yang dulunya kita ejek, kenapa begini kenapa begitu. Sekarang, cuma bisa terdiam, baru mengerti. Mengerti kenapa mereka begini, kenapa begitu. Aku yang dulunya membenci bapak-bapak atau ibu-ibu yang eksis di facebook, sekarang, sedikit demi sedikit, mulai bertingkah seperti mereka, lalu terdiam. Mungkin sampai nanti, sampai kita mati, juga akan terus begini. Manusia terus belajar, kan? Kalau dipikir-pikir... melelahkan juga ya. Toh sampai mati kita nggak akan mencapai titik kesempurnaan itu. Tapi, manusia memang tidak sempurna. Daripada menyerah lalu memilih untuk tidak berkembang sama sekali?

Aku Masih Ingin Menjadi Penulis. Penulis Apa Saja...

Belakangan ini, aku sedang rajin menulis. Menulis apa saja. Meringkas buku pelajaran. Menulis status di twitter. Menulis kata-kata sulit yang kutemukan di film. Menulis blog.
Aku masih bingung kenapa aku menulis. Yang pasti, aku merasa lebih baik setelah itu. Aku menulis saat aku merasa buruk. Lalu, semuanya jadi lebih baik. Atau lebih tepatnya, semuanya kembali baik. Seakan-akan, tidak ada yang terjadi...
Mungkin beberapa tulisanku sifatnya personal. Mungkin, bukan sesuatu yang sebaiknya diberikan ke banyak orang. Tapi, memang itu resikonya.
Aku suka sebuah buku. Judulnya, River's Note. Penulisnya, Fauzan Mukhrim. Dia seorang ayah. Atau mungkin, calon ayah. Buku itu adalah kumpulan catatan hariannya yang dia tujukan buat anaknya yang bahkan belum lahir. Buku itu bagus banget (sekalian promosi). Entah iya atau tidak, buku itu benar-benar ditulis sesuai perasaan dia yang sebenarnya... Aku harap memang benar. Karena aku sudah terlanjur kagum dan attached dengan tulisannya. Dengan kehidupannya, kehidupan personalnya yang dia tuangkan di dalam buku itu.
Seorang penulis, misalnya penulis jurnal seperti dia, memang sudah memutuskan untuk mengambil resiko itu. Resiko untuk membuat kehidupannya terekspos. Semuanya memang jadi bahan cemilan publik, tapi... entahlah. Kuharap ada gunanya, ada manfaatnya. Kuharap dengan menulis perkembanganku disini, pengalamanku, pemikiranku, sesuatu bisa berubah. Aku tidak tahu di mana letakku. Di atas, setara, atau di bawah? Aku tidak tahu apakah aku lebih baik dari kalian, sama, atau lebih payah, lebih alay. Aku tidak tahu apakah blog ini membuat kalian tersentuh, atau jijik. Aku cuma mau menulis. Cuma bisa bertanya-tanya, apakah seiring semakin banyak orang yang membaca postinganku, semakin banyak orang yang membenciku atau tidak. Sekali lagi, aku cuma mau menulis... Mungkin aku punya motivasi tersembunyi waktu menulis, yang aku sendiripun tidak sadar apa itu. Aku cuma berharap, semoga motivasi itu benar. Sekian.

Senin, 13 Agustus 2012

Kalian, Ya, Kalian Beruntung!

Kalian beruntung. Kalian, orang-orang yang punya sedikit bakat, punya kemampuan terbatas. Orang-orang dengan bakat yang banyak dan berlimpah akan tertidur. Terbuai, yakin dengan masa depan mereka, sementara kalian berjuang, bekerja, mengubah sedikit yang ada pada kalian menjadi harta yang berlimpah. Berjuanglah! Lihatlah kesempatan dan saliplah mereka dengan semangat kalian!

Selasa, 07 Agustus 2012

Pembangkang

Biar kuberitahu, ya. Dulu aku anak pembangkang. Bukan pembangkang yang sering dugem-dugem keluar dan ikut geng motor, LOL itu kejauhan. Apalagi buatku. HAHAHA. Pembangkangku itu... nggak mau ngalah. Sama siapa aja. Tapi paling sering, sama orang tua. Sama mama.

Oh ya, aku pernah bercerita tentang kos baruku, kan? Ternyata, aku memang terlalu cepat menyimpulkan. Biar kuceritakan lagi.

Aku menelepon mamaku. Dan sesekali bercerita tentang itu. Aku bilang, aku tidak bisa berteman dengan mereka. Mama bilang, kenapa? Kubilang, mereka sudah berteman dari dulu, jadi susah buatku kalau mau ikutan. Mama menyanggah dan bilang, tidak boleh begitu~ Kan teman satu kos. Sudah seperti keluarga lah, anggap saja begitu. Kataku, sudah kucoba ma, tapi cuma sebatas saling nyapa, terus udah. Lalu mama memberi wejangan lagi, aku lupa sih isinya, tapi yang pasti, aku tidak membantah seperti biasanya. Aku mengalah dan akhirnya bilang, oke deh ma. Sesuatu yang dulu tidak akan mungkin kulakukan.

Dan ternyata, semua jadi lebih baik.

Ada Yang Bilang

Ada yang bilang, aku beruntung. Punya semuanya. Bisa semuanya. Tapi, tidak juga. Mungkin ini masalah persepsi. Mereka bilang aku pintar. Mereka bilang aku berbakat. Aku mungkin bersyukur saja, tapi aku tidak sudi dianggap jauh di atas mereka. Toh aku juga menganggap orang lain seperti itu. Aku bilang mereka supel. Aku bilang mereka percaya diri. Pada akhirnya, yang kita lihat dari orang lain itu... apa yang tidak kita miliki. Atau, apa yang ingin kita miliki. Iya atau tidak? Mungkin saja. Tidak tahu deh.

Dulu, Aku Bukan Manusia

Aku manusia. Punya badan, punya pikiran. Tapi aku belum punya hati. Dulu.

Dulu, aku tidak peduli kalau ada yang meninggal. Sebenarnya bukan tidak peduli, tapi tidak bisa jadi sedih. Aku mau ikut-ikutan sedih seperti yang lain, tapi tidak bisa. Bagiku, kematian itu hal biasa. Semua orang pasti akan mati. Mungkin aku akan sedih kalau kisahnya tragis atau semacamnya.

Dulu, aku juga tidak mengerti kalau ada yang menangis. Teman-temanku yang lain bisa menghapus air mata temannya, lalu ikut-ikutan diam dan menunduk. Tapi aku tidak bisa. Menurutku itu konyol. Aku cuma bisa berdiri mematung dengan canggung, tidak tahu harus berbuat apa.

Tapi sekarang, ada sesuatu yang mengubahku. Aku tidak akan bilang itu apa, atau siapa, yang pasti aku sangat berterimakasih.

Ada yang salah denganku. Masalahnya adalah, aku tidak bisa ikut merasakan yang orang lain rasakan. Apa ya sebutannya? Empati kah? Aku lupa. Tapi kalian pasti mengerti maksudku.

Biasanya, aku tidak pernah punya masalah yang cukup mengganggu hari-hariku. Kalaupun dulu aku menangis atau stres atau apalah itu, itu cuma karena pikiranku sendiri yang membandel dan menyakiti diriku sendiri. Tapi kali ini, aku menangis karena benar-benar ada masalah. Dan waktu itu, yah, anggap saja aku sedih sekali.

Biasanya, kalau aku sedang sedih, aku akan tetap pura-pura senang dan tertawa seperti biasanya. Atau sesekali menertawakan diriku sendiri di depan orang lain. Aku tidak butuh rangkulan dari teman-temanku, yang ada aku malah jadi malu kalau dikasihani, entah kenapa. Mungkin egoku yang terlalu tinggi menghalangiku untuk meminta bantuan dari teman-temanku. Mungkin aku yang biasanya berdiri sendiri, jadi malu kalau mencoba menjadi lemah di depan orang lain.

Tapi kali itu, aku tidak bisa sendirian. Waktuku hampir habis dan aku harus pulih secepat mungkin. Lagipula, aku tidak bisa lagi pura-pura senang. Waktu itu (pelan-pelan memang, tidak langsung), aku memotong sedikit demi sedikit egoku. Dan saat itu aku sadar, bahwa aku butuh teman-temanku. Baru kali itu aku mengerti rasanya ditemani dan dihibur saat hatimu sedang ada di tingkat paling bawah. Aku baru mengerti rasanya punya 'masalah'. Punya sesuatu yang pantas ditangisi. Atau, mengerti rasanya kehilangan seseorang. Sekarang aku mengerti, orang-orang yang sedang sedih (sangat) butuh dihibur. Itu bukan kekonyolan atau sekadar formalitas seperti yang selama ini kukira. Dan untuk bisa menghibur, kau harus bisa mengerti dulu. Aku bersyukur. Karena akhirnya aku punya hati, yang bisa mengerti hati orang lain. Mungkin ini baru sedikit. Mungkin masih banyak yang belum aku mengerti. Tapi aku tetap senang. Maka kutuliskan di sini.

Rabu, 01 Agustus 2012

Aku Belajar

Aku banyak belajar. Aku belajar bahwa suka membaca itu benar. Aku belajar bahwa menyapa duluan itu tidak apa-apa. Aku belajar bahwa kita tidak perlu tampil sempurna. Aku belajar bahwa suka menulis terkadang memang terkesan naif, tapi itu cukup baik untuk mengembangkan diri. Aku belajar bahwa selama kita tidak melakukan hal yang salah, itu sah-sah saja untuk dilakukan. Aku belajar untuk lebih menghargai tindakan apapun yang kuambil.

Aku belajar untuk bangun pagi dengan pikiran yang positif. Aku belajar bahwa tidak semua orang bisa kita jadikan teman begitu saja. Aku belajar bahwa orang-orang bergaul dengan cara yang berbeda. Aku belajar bahwa apa yang dia katakan benar, belum tentu benar. Aku belajar bahwa kalau orang lain bodoh, kita tidak perlu jadi bodoh untuk bisa berbaur dalam candaannya. Aku belajar bahwa momen yang canggung itu wajar dan terjadi di antara orang-orang supel sekalipun. Aku belajar bahwa orang-orang kaya ternyata juga menyetrika baju mereka sendiri, sesuatu yang dulunya jarang sekali kulakukan. Aku belajar bahwa persahabatan itu sangat penting, walaupun aku baru bisa menyadarinya setelah aku merasa diabaikan atau ditinggalkan. Ada banyak sekali yang kupelajari--tidak bisa kutuliskan semuanya di sini!

Kamu Benar, Aku Salah. Tidak Lagi!

Belakangan ini, aku dapat satu hal baru. Hal yang penting banget buatku pribadi. Banget! Aku belajar kalau dalam soal karakter, nggak ada yang salah, dan nggak ada yang benar. Paham? Well... Selama ini, aku selalu ngerasa kalau sikapku itu salah. Orang lain yang benar. Bahkan dalam hal-hal sepele. Dalam 'siapa yang menyapa duluan', dalam hobi dan kebiasaan. Aku suka membaca. Suka menulis. Suka menonton film-film yang tidak disukai kebanyakan orang. Suka membaca novel terjemahan yang tebal-tebal. Suka musik yang tidak terkenal, tidak suka musik pop yang selama ini beredar di pasaran anak muda. Suka warna yang soft dan padu, bukan warna ngejreng dan berani. Suka pakai kaos, tidak suka pakai accesories macam-macam. Tapi bertahun-tahun, aku dijejali fakta bahwa seleraku salah. Seleraku aneh. Aku ketuaan. Dan bodohnya, aku percaya. Aku benar-benar percaya bahwa seleraku salah, dan selera mereka yang benar. Lalu aku mulai belajar, belajar untuk menjadi seperti mereka. Untuk mendapat perlindungan dalam kesamaan, untuk mendapat dukungan dan kesenangan. Aku cukup lama 'tersesat' sampai perlahan-lahan, aku bertemu satu-dua orang yang... sebutlah menginspirasiku. Mereka mungkin bukan siapa-siapa. Bukan tokoh ternama atau orang bijak, tapi mereka adalah orang-orang yang sama denganku. Bedanya, mereka berani menunjukkan kalau mereka berbeda. Bedanya, mereka tidak pernah menganggap kalau pilihan mereka itu sesuatu yang salah. Lalu aku mulai sadar... Yah begitulah. Cukuplah bermelankolisnya! Aku hanya anak yang kurang percaya diri--benar kata orang-orang. Tapi aku tidak pernah berhenti mencoba mengubahnya. Goodluck, Geb!

Kamis, 12 Juli 2012

6

Waktu itu, aku pergi hanya dengan satu tujuan : mencari Tuhan. Dan aku memang menemukanNya. Aku pergi dengan tangan kosong, dan pulang membawa damai yang dititipkan Tuhanku. Tapi bukan untuk sementara--untuk selamanya.

Selasa, 05 Juni 2012

Life Lesson #5

Perfect is not needed. Nggak harus sempurna di setiap kesempatan, di setiap penampilan di depan orang lain. Bahkan nggak harus sempurna waktu bergaul dengan orang lain. People want you to be just yourself... That is the thing I still learn until today!

Senin, 04 Juni 2012

Life Lesson #4

Sekarang aku ngerti, cuma orang-orang yang mau berubah yang bisa sukses. Mereka yang nggak mau mengembangkan diri, atau yang merasa dirinya sudah benar, atau yang cuma bisa mengejek dan merendahkan orang lain, mereka nggak akan lebih sukses daripada orang-orang kecil yang mau mencari motivasi dan mengembangkan diri. Mungkin sama seperti cerita kelinci dan kura-kura yang balapan. Nggak perlu dijelaskan lagi toh?

Life Lesson #3

Semua orang besar mulai dari hal-hal kecil... Kalau kita merasa terlalu 'besar' untuk memulai hal-hal kecil, kita nggak akan pernah jadi 'besar' yang sebenarnya~

Life Lesson #2

Semua orang punya kesuksesannya masing-masing. Ada yang sukses jadi novelis, ada yang sukses jadi penyanyi. Jangan tergiur, terus pingin jadi kayak mereka, kita mesti nyiptain kesuksesan kita sendiri! Cari bidang dimana kamu bersinar paling terang, lalu usahakan sampai akhir! Semangat geb!

Life Lessons #1

When you're doing your passion, you'll never get bored. When you don't take a rest, it is another story.