Baru saja menjelajahi dunia maya. Dan terkesima, karena banyak hal-hal bagus tersebar di mana-mana. Banyak orang-orang yang mungkin terlihat biasa di dunia nyata, lalu menjelma menjadi motivator super di dunia maya. Tergagu, karena merasa kalah. Merasa di bawah. Sempat merasa sedih, melihat usahaku sendiri terbanting.
Tapi aku lalu berpikir, aku seharusnya bersyukur. Tuhan mau aku melihat itu, bukan supaya aku sedih, tapi supaya aku tahu. Bahwa di atas langit, masih ada langit. Bahkan mungkin, aku pun bukan langit. Atau belum sampai di langit. Aku yang selalu ingin ada di paling atas, disadarkan. Tidak perlu berusaha untuk jadi yang terbaik. Melakukan yang terbaik dari dirimu sendiri, itu baru perlu. Apa gunanya menjadi yang terbaik? Demi hormatkah? Toh aku sendiri yang meminta Tuhan untuk menghilangkan kesombonganku. Mungkin, ini salah satu jawaban-Nya..
Minggu, 26 Agustus 2012
Sombong VS Minder
Lagi-lagi wejangan dosen, aku masih ingat akan kata-kata dosen baruku tadi pagi. Katanya, hati-hati dalam menilai orang. Orang sombong, tidak selamanya sombong. Kalau dia memang tidak sombong, bisa jadi dia minder! Aku tertawa mendengarnya, walaupun yang lain tidak tertawa juga. Aku tertawa, karena aku merasakannya.
Tadi, waktu baru pulang dari kampus, dan sudah makan pagi sekaligus siang, dari kejauhan aku melihat tiga cowok berbaju kemeja berjalan dari arah samping. Cukup jauh dariku. Mereka teman-teman kelasku. Baru pulang mereka. Lalu, entah mereka sedang tersenyum padaku atau tidak, aku cuma tersenyum tipis. Takut mereka sebenarnya tidak sedang menyapaku, takut dibilang sok kenal, takut macam-macam deh! Aku berlalu sambil terus melihat mereka, dan merasa ada kata sombong terucap dari salah satu mulut mereka. Tapi, masih tersenyum.
Aku tidak menyapa bukan karena sombong. Tapi anggap saja, minder. Takut ini itu. Ingat kata Bu Lusi tadi. Orang sombong, dengan orang minder, punya penampakan yang hampir sama. Jadi, jangan sampai salah menilai! :p
Tadi, waktu baru pulang dari kampus, dan sudah makan pagi sekaligus siang, dari kejauhan aku melihat tiga cowok berbaju kemeja berjalan dari arah samping. Cukup jauh dariku. Mereka teman-teman kelasku. Baru pulang mereka. Lalu, entah mereka sedang tersenyum padaku atau tidak, aku cuma tersenyum tipis. Takut mereka sebenarnya tidak sedang menyapaku, takut dibilang sok kenal, takut macam-macam deh! Aku berlalu sambil terus melihat mereka, dan merasa ada kata sombong terucap dari salah satu mulut mereka. Tapi, masih tersenyum.
Aku tidak menyapa bukan karena sombong. Tapi anggap saja, minder. Takut ini itu. Ingat kata Bu Lusi tadi. Orang sombong, dengan orang minder, punya penampakan yang hampir sama. Jadi, jangan sampai salah menilai! :p
Kita, Bertambah Tua
Kita semua, tak terkecuali, bertambah tua setiap harinya. Bukan cuma tubuh fisik, tapi apa yang ada di dalam. Di sini, entah di mana letaknya, tapi ada di sini, di suatu tempat dalam jiwa kita. Hati kita berubah. Pikiran kita berubah. Pendapat kita berubah. Semuanya berubah, dan berkembang, seiring dengan semakin banyaknya hal yang kita hadapi di luar sana. Apapun itu.
Aku berubah. Aku bertambah tua. Aku akan ulang tahun sebentar lagi (promosi :p), tapi bukan cuma itu, apa yang ada di dalam diriku berubah.
Kadang, apa yang dulu kita rasa benar, jadi tidak benar lagi. Bukan kenyataan itu yang berubah, tapi kesadaran kita yang berubah. Tadi kubilang, kita bertambah tua. Ya, kita makin mirip dengan orang-orang dewasa di luar sana. Mereka yang dulunya kita ejek, kenapa begini kenapa begitu. Sekarang, cuma bisa terdiam, baru mengerti. Mengerti kenapa mereka begini, kenapa begitu. Aku yang dulunya membenci bapak-bapak atau ibu-ibu yang eksis di facebook, sekarang, sedikit demi sedikit, mulai bertingkah seperti mereka, lalu terdiam. Mungkin sampai nanti, sampai kita mati, juga akan terus begini. Manusia terus belajar, kan? Kalau dipikir-pikir... melelahkan juga ya. Toh sampai mati kita nggak akan mencapai titik kesempurnaan itu. Tapi, manusia memang tidak sempurna. Daripada menyerah lalu memilih untuk tidak berkembang sama sekali?
Aku berubah. Aku bertambah tua. Aku akan ulang tahun sebentar lagi (promosi :p), tapi bukan cuma itu, apa yang ada di dalam diriku berubah.
Kadang, apa yang dulu kita rasa benar, jadi tidak benar lagi. Bukan kenyataan itu yang berubah, tapi kesadaran kita yang berubah. Tadi kubilang, kita bertambah tua. Ya, kita makin mirip dengan orang-orang dewasa di luar sana. Mereka yang dulunya kita ejek, kenapa begini kenapa begitu. Sekarang, cuma bisa terdiam, baru mengerti. Mengerti kenapa mereka begini, kenapa begitu. Aku yang dulunya membenci bapak-bapak atau ibu-ibu yang eksis di facebook, sekarang, sedikit demi sedikit, mulai bertingkah seperti mereka, lalu terdiam. Mungkin sampai nanti, sampai kita mati, juga akan terus begini. Manusia terus belajar, kan? Kalau dipikir-pikir... melelahkan juga ya. Toh sampai mati kita nggak akan mencapai titik kesempurnaan itu. Tapi, manusia memang tidak sempurna. Daripada menyerah lalu memilih untuk tidak berkembang sama sekali?
Mau Miskin Tapi Tertawa, Atau Kaya Tapi Cemberut?
Adikku pernah bilang, standarku turun. Aku tahu itu. Tapi aku terpikir, mungkin lebih baik jadi orang bodoh yang bahagia, daripada tahu segalanya tapi tidak menikmati hidup.
Mungkin... ini sama seperti jadi orang miskin yang bersyukur, daripada jadi orang kaya yang tidak pernah tersenyum.
Kawanku, banyak orang-orang di luar sana yang masih bisa tertawa lepas, yang lebih sering bercengkrama dibanding orang-orang yang lebih kaya dari mereka. Banyak orang-orang yang tidak membutuhkan uang banyak untuk membuat mereka bahagia. Yang tidak menjadiakn kemewahan dan segala bentuk kehidupan glamor sebagai syarat tersunggingnya senyum mereka. Dan aku, mengagumi orang-orang itu.
Tapi, kalau kita ditanyai seperti itu--mau jadi orang kaya yang cemberut atau jadi orang miskin yang tertawa?--secara otomatis, pikiran kita yang tidak mau dirugikan akan menjawab: mau jadi orang kaya yang tertawa! Kalau begitu, kita ambil saja jalan tengahnya. Jadi, yang sudah kaya, bersyukur dan tersenyumlah. Nikmati hidup, jangan terlalu khawatir hartamu akan hilang, kalau kekhawatiran itu sampai merenggut kebahagiaanmu. Yang masih miskin, tetap bersyukur lalu berusahalah jadi kaya. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, kan? Ayo kita saling mendoakan, supaya kita, satu per satu, bisa jadi orang kaya yang tertawa... Kalau Tuhan mengizinkan. :)
Mungkin... ini sama seperti jadi orang miskin yang bersyukur, daripada jadi orang kaya yang tidak pernah tersenyum.
Kawanku, banyak orang-orang di luar sana yang masih bisa tertawa lepas, yang lebih sering bercengkrama dibanding orang-orang yang lebih kaya dari mereka. Banyak orang-orang yang tidak membutuhkan uang banyak untuk membuat mereka bahagia. Yang tidak menjadiakn kemewahan dan segala bentuk kehidupan glamor sebagai syarat tersunggingnya senyum mereka. Dan aku, mengagumi orang-orang itu.
Tapi, kalau kita ditanyai seperti itu--mau jadi orang kaya yang cemberut atau jadi orang miskin yang tertawa?--secara otomatis, pikiran kita yang tidak mau dirugikan akan menjawab: mau jadi orang kaya yang tertawa! Kalau begitu, kita ambil saja jalan tengahnya. Jadi, yang sudah kaya, bersyukur dan tersenyumlah. Nikmati hidup, jangan terlalu khawatir hartamu akan hilang, kalau kekhawatiran itu sampai merenggut kebahagiaanmu. Yang masih miskin, tetap bersyukur lalu berusahalah jadi kaya. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, kan? Ayo kita saling mendoakan, supaya kita, satu per satu, bisa jadi orang kaya yang tertawa... Kalau Tuhan mengizinkan. :)
Aku Masih Ingin Menjadi Penulis. Penulis Apa Saja...
Belakangan ini, aku sedang rajin menulis. Menulis apa saja. Meringkas buku pelajaran. Menulis status di twitter. Menulis kata-kata sulit yang kutemukan di film. Menulis blog.
Aku masih bingung kenapa aku menulis. Yang pasti, aku merasa lebih baik setelah itu. Aku menulis saat aku merasa buruk. Lalu, semuanya jadi lebih baik. Atau lebih tepatnya, semuanya kembali baik. Seakan-akan, tidak ada yang terjadi...
Mungkin beberapa tulisanku sifatnya personal. Mungkin, bukan sesuatu yang sebaiknya diberikan ke banyak orang. Tapi, memang itu resikonya.
Aku suka sebuah buku. Judulnya, River's Note. Penulisnya, Fauzan Mukhrim. Dia seorang ayah. Atau mungkin, calon ayah. Buku itu adalah kumpulan catatan hariannya yang dia tujukan buat anaknya yang bahkan belum lahir. Buku itu bagus banget (sekalian promosi). Entah iya atau tidak, buku itu benar-benar ditulis sesuai perasaan dia yang sebenarnya... Aku harap memang benar. Karena aku sudah terlanjur kagum dan attached dengan tulisannya. Dengan kehidupannya, kehidupan personalnya yang dia tuangkan di dalam buku itu.
Seorang penulis, misalnya penulis jurnal seperti dia, memang sudah memutuskan untuk mengambil resiko itu. Resiko untuk membuat kehidupannya terekspos. Semuanya memang jadi bahan cemilan publik, tapi... entahlah. Kuharap ada gunanya, ada manfaatnya. Kuharap dengan menulis perkembanganku disini, pengalamanku, pemikiranku, sesuatu bisa berubah. Aku tidak tahu di mana letakku. Di atas, setara, atau di bawah? Aku tidak tahu apakah aku lebih baik dari kalian, sama, atau lebih payah, lebih alay. Aku tidak tahu apakah blog ini membuat kalian tersentuh, atau jijik. Aku cuma mau menulis. Cuma bisa bertanya-tanya, apakah seiring semakin banyak orang yang membaca postinganku, semakin banyak orang yang membenciku atau tidak. Sekali lagi, aku cuma mau menulis... Mungkin aku punya motivasi tersembunyi waktu menulis, yang aku sendiripun tidak sadar apa itu. Aku cuma berharap, semoga motivasi itu benar. Sekian.
Aku masih bingung kenapa aku menulis. Yang pasti, aku merasa lebih baik setelah itu. Aku menulis saat aku merasa buruk. Lalu, semuanya jadi lebih baik. Atau lebih tepatnya, semuanya kembali baik. Seakan-akan, tidak ada yang terjadi...
Mungkin beberapa tulisanku sifatnya personal. Mungkin, bukan sesuatu yang sebaiknya diberikan ke banyak orang. Tapi, memang itu resikonya.
Aku suka sebuah buku. Judulnya, River's Note. Penulisnya, Fauzan Mukhrim. Dia seorang ayah. Atau mungkin, calon ayah. Buku itu adalah kumpulan catatan hariannya yang dia tujukan buat anaknya yang bahkan belum lahir. Buku itu bagus banget (sekalian promosi). Entah iya atau tidak, buku itu benar-benar ditulis sesuai perasaan dia yang sebenarnya... Aku harap memang benar. Karena aku sudah terlanjur kagum dan attached dengan tulisannya. Dengan kehidupannya, kehidupan personalnya yang dia tuangkan di dalam buku itu.
Seorang penulis, misalnya penulis jurnal seperti dia, memang sudah memutuskan untuk mengambil resiko itu. Resiko untuk membuat kehidupannya terekspos. Semuanya memang jadi bahan cemilan publik, tapi... entahlah. Kuharap ada gunanya, ada manfaatnya. Kuharap dengan menulis perkembanganku disini, pengalamanku, pemikiranku, sesuatu bisa berubah. Aku tidak tahu di mana letakku. Di atas, setara, atau di bawah? Aku tidak tahu apakah aku lebih baik dari kalian, sama, atau lebih payah, lebih alay. Aku tidak tahu apakah blog ini membuat kalian tersentuh, atau jijik. Aku cuma mau menulis. Cuma bisa bertanya-tanya, apakah seiring semakin banyak orang yang membaca postinganku, semakin banyak orang yang membenciku atau tidak. Sekali lagi, aku cuma mau menulis... Mungkin aku punya motivasi tersembunyi waktu menulis, yang aku sendiripun tidak sadar apa itu. Aku cuma berharap, semoga motivasi itu benar. Sekian.
Langganan:
Postingan (Atom)